Korelasi tingkat caregiver burden dengan tingkat pendapatan ekonomi pada keluarga pasien stroke di RSUDZA Banda Aceh
Abstract
Stroke merupakan salah satu penyakit dengan risiko kecacatan ketiga tertinggi di dunia dan prevelensinya terus meningkat di Indonesia. Kecacatan pada pasien stroke mengakibatkan keterbatasan bagi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari, sehingga pasien membutuhkan bantuan orang lain sebagai caregiver dalam memenuhi kebutuhan hariannya. Perawatan jangka panjang yang diberikan oleh caregiver akan memberi dampak negatif bagi caregiver berupa beban fisik, emosi, mental, dan sosial yang disebut dengan caregiver burden. Burden yang dirasakan dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya adalah pendapatan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara tingkat caregiver burden dengan tingkat pendapatan ekonomi pada keluarga pasien stroke. Metode penelitian ini berupa analitik observasional dengan desain cross sectional, dilakukan pada 80 keluarga pasien stroke di poliklinik saraf RSUDZA Banda Aceh diambil dengan teknik accidental sampling. Pengambilan data diambil secara pengisian kuesioner Caregiver Burden Asessment semi wawancara. Data dianalisis dengan menggunakan uji Spearmen. Hasil penelitian menunjukkan 45% caregiver mengalami caregiver burden tingkat tinggi, 35% responden memiliki tingkat pendapatan rendah, dan terdapat korelasi yang sedang (p=0.00,r= -0,419) antara tingkat caregiver burden dengan tingkat pendapatan ekonomi keluarga pasien stroke. Kesimpulan dari penelitian ini, mayoritas responden memiliki tingkat caregiver burden yang tinggi, tingkat pendapatan ekonomi yang rendah, dan terdapat korelasi yang sedang antar tingkat caregiver burden dengan tingkat pendapatan ekonomi keluarga pasien stroke.
Kata Kunci: caregiver burden, caregiver, stroke, pendapatan ekonomi
References
Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. 100 Kabupaten/Kota Prioritas Untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting). Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia. Jakarta Pusat: Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia; 2017.
Prendergast AJ, Humphrey JH. The Stunting Syndrome in Developing Countries. Paediatrics and International Child Health. 2014;
WHO, UNICEF, The World Bank Group. Levels and Trends in Child Malnutrition. UNICEF WHO The World Bank Group. 2018;1–16.
The World Bank Group. New Country Classifications by Income Level: 2018-2019. 2018.
Kemenkes RI. Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Lembaga Penerbit Balitbangkes. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan; 2018. 1–220 p.
Kemenkes RI. Buku Saku Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) Republik Indonesia. 2017;
Kemenkes RI. Buku Saku Pemantauan Status Gizi (PSG) Provinsi Aceh. Jakarta Selatan: Direktorat Gizi Masyarakat Direktorat Kementrian Kesehatan RI; 2017. 1–83 p.
Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh. Status Gizi Siswa Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. 2019.
Achadi EL. Periode Kritis 1000 Hari Pertama Kehidupan dan Dampak Jangka Panjang terhadap Kesehatan dan Fungsinya. 2014;1–53.
Kemenkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2014 Tentang Pemantauan Pertumbuhan, Perkembangan, Dan Gangguan Tumbuh Kembang. 2014;1–365.
Purnamasari A, Nurhayati N. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemampuan Kognitif Anak Usia 5-6 Tahun Di Taman Kanak-Kanak. Kindergarten: Journal of Islamic Early Childhood Education. 2019;1(2):124.
UNICEF. Annual Results Report 2017: Nutrition. 2017;
Muazzin. Hubungan Stunting dengan Prestasi Belajar Anak Usia 9-12 Tahun Di Sekolah Dasar Negeri 2 Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur. 2017;1–6.
Kemendikbud RI. Mengapa Usia Anak Masuk SD Harus 7 Tahun? Sahabat Keluarga. 2017;(Maret):4–6.
Kemdikbud RI. Profil Pendidikan Sekolah Dasar Negeri 15 Banda Aceh. 2019.
Clinton HR. Proyek Kesehatan Dan Gizi Berbasis Masyarakat (PKGBM) Untuk Mengurangi Stunting. MCA-Indonesia [Internet]. 2014;1(April).
Danaei G, Andrews KG, Sudfeld CR, Fink G, McCoy DC, Peet E, et al. Risk Factors for Childhood Stunting in 137 Developing Countries: A Comparative Risk Assessment Analysis at Global, Regional, and Country Levels. PLoS Medicine. 2016;
WHO. Nutrition Landscape Information System (NLIS) Country Profile Indicators Interpretation Guide. WHO Global Nutrition Databases. Geneva, Switzerland: WHO Document Production Services; 2010. 1–51 p.
Kemenkes RI. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010 Tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Gizi Dan Kesehatan Ibu Dan Anak; 2011. 1–41 p.
Kemenkes RI. Situasi Balita Pendek. InfoDatin. 2016;2442–7659.
Stevens GA, Finucane MM, Paciorek CJ, Flaxman SR, White RA, Donner AJ, et al. Trends In Mild, Moderate, And Severe Stunting And Underweight, And Progress Towards MDG 1 In 141 Developing Countries: A Systematic Analysis Of Population Representative Data. 2012;380(9844):824–34.
Hanum F, Khomsan A, Heryanto Y. Hubungan Asupan Gizi dan Tinggi Badan Ibu dengan Status Gizi Anak Balita. Jurnal Gizi dan Pangan. 2014;9(1):1–6.
Sampoerno D. Membangun Bangsa yang Sehat Produktif. Kesmas: National Public Health Journal. 2016;3(1):1–7.
Oktarina Z, Sudiarti T. Faktor Risiko Stunting Pada Balita (24—59 Bulan) Di Sumatera. Jurnal Gizi dan Pangan. 2013;8(3):175–80.
Wahdah S, Juffrie M, Huriyati E. Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Anak Umur 6-36 Bulan Di Wilayah Pedalaman. Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia. 2015;3(2):119–30.
Yuliarti K. Apa yang Perlu Ibu Ketahui Tentang MPASI. Jakarta Pusat: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2017.
Lestari ED. Buku Untuk Bunda: Makanan Pendamping ASI. Jakarta Pusat: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2016.
Kusumawati E, Rahardjo S, Sari HP. Model Pengendalian Faktor Risiko Stunting pada Anak Usia di Bawah Tiga Tahun. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2013;9(3):249–56.
UNICEF. Causes of Child Malnutrition. 1997;2018.
Putra O. Pengaruh BBLR Terhadap Kejadian Stunting Pada Anak Usia 12 – 60 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Pada Tahun 2015. Skripsi. 2016;
WHO. Childhood Stunting : Challenges and Opportunities. WHO Geneva. 2014;
MCA Indonesia. Stunting dan Masa Depan Indonesia. Millennium Challenge Account - Indonesia. 2013;2010:2–5.
Badan Pusat Statistik. Indeks Pembangunan Manusia (IPM). 2019;
Santrock J. Masa Perkembangan Anak. 11th ed. Jakarta: Salemba Humanika; 2011. 207 p.
Nuramaliana S. Konsentrasi Belajar Dan Penyesuaian Diri Pada Siswa Kelas VII Di SMP Negeri 1 Ciawigebang Tahun Ajaran 2016/2017. Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan Dan Konseling. 2016;5(9):208–21.
Latipah E. Strategi Self Regulated Learning dan Prestasi Belajar : Jurnal Psikologi. 2010;37(1):110–29.
Kemdikbud RI. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2016 Tentang Standar Penilaian Pendidikan. Peraturan Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2016;
Syah M. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada; 2011.
Papalia D, Old S, Ruth D. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Kencana; 2017. 1–4 p.
Suryabrata S. Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Yogyakarta; 2010.
Waliyanti E, Pratiwi W. Hubungan Derajat Insomnia dengan Konsentrasi Belajar Mahasiswa. Indonesian Journal of Nursing Practices. 2017;1(2):5–7.
Obuchi C, Ogane S, Sato Y, Kaga K. Auditory Symptoms And Psychological Characteristics In Adults With Auditory Processing Disorders. Journal of Otology. 2017;12(3):132–7.
Slameto. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta: PT Rineka Cipta; 2010.
Shaleh A. Psikologi: Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam. 1st ed. Jakarta: PT Fajar Interpratama Offset; 2009.
Gain U. The Cognitive Function And The Framework Of The Functional Hierarchy. Applied Computing and Informatics [Internet]. 2018.
Sarwono S. Pengantar Psikologi Umum. 9th ed. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada; 2019. 1–5 p.
Hurlock E. Perkembangan Anak. 6th ed. Jakarta Timur: Penerbit Erlangga; 2013.
Kemdikbud RI. Konsep dan Implementasi Kurikulum 2013. In: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta; 2014.
DOI: 10.24815/jks.v21i3.20851
Refbacks
- There are currently no refbacks.