Gambaran penderita karsinoma nasofaringdi poliklinik THT RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau dari tahun 2016 – 2020

Nurhaida Utami

Abstract


Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor yang timbul akibat perubahan sel epitel yang menutupi permukaan  nasofaring. Etiologi KNF dapat disebabkan oleh faktor genetik, faktor lingkungan dan infeksi Epstein Barr Virus. Dalam penegakkan diagnosis KNF dapat dideteksi dengan ditemukannya gejala yang ditimbulkan, diantaranya terdiri dari gejala hidung, gejala telinga, gejala mata dan saraf, serta gejala metastasis di leher. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data dari penderita karsinoma nasofaring di poliklinik THT RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau dari tahun 2016 – 2020. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan pendekatan cross sectional dengan sampel sebanyak 363 rekam medik. Gambaran penderita KNF terbanyak adalah laki-laki (68,9%) dengan kelompok umur tertinggi yaitu 46-55 tahun (32,2%). Sebagian besar pasien tidak bekerja (30,9%) datang dengan keluhan utama benjolan di leher (41,9%). Karsinoma tidak berdiferensiasi (73,6%) merupakan jenis histopatologis terbanyak dengan tingkat stadium tertinggi yaitu stadium IVA (36,1%), serta distribusi terbanyak ditemukan di kota Pekanbaru (28,1%).

References


Daftar Pustaka

Adham M, Kurniawan AN, Muhatdi AI, Roezin A, Hermani B, Gondhowiardjo S, dkk. Nasopharyngeal carcinoma in Indonesia: epidemiology, incidence, signs, and symptoms at presentation. Chinese Journal of Cancer. 2012;31(4):185-96.

Rahman S. Update diagnosis dan tatalaksana karsinoma nasofaring. Update Diagnosis dan Tatalaksana Kasus di Bidang THT-KL. 2014.

Sung H, Ferlay J, Siegel RL, Laversanne M, Soerjomataram I, Jemal A, & Bray F. Global Cancer Statistics 2020: GLOBOCAN Estimates of Incidence and Mortality Worldwide for 36 Cancers in 185

Countries. CA: A Cancer Journal for Clinicians. 2021;71(3): 209– 49.

Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Simadibrata M, Setiyohadi B, Syam AF. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi 6. Jakarta: Internal Publishing; 2015.

Chang ET, Adami HO. The enigmatic epidemiology of nasopharyngeal carcinoma. Cancer Epidemiology Biomarkers

Ningsih TY, Wahyono DJ, Gumilas NSA. Deteksi gen litik BRLF1 Epstein-Barr Virus pada penderita karsinoma nasofaring. Biosfera. 2018;35(1):29-36.

Tabuchi K, Nakayama M, Nishimura B, Hayashi K, Hara A. early detection nasopharyngeal carcinoma. International Journal of Otolaryngology. 2011:1-6.

Bangun HA, Simanjuntak AM.Karakteristik Penderita Kanker Nasofaring di RSUD Dr . Pirngadi Medan Tahun 2018. Wahana Inovasi. 2018;7(2):1–5.

Diniati A, Wiwit FWA, Harianto. Distribusi keganasan nasofaring berdasarkan pemeriksaan

histopatologi pada rumah sakit di kota pekanbaru tahun 2009-2013. JOM FK. 2016;3(1):1-18.

Arditawati Y. Analisis hubungan antara faktor resiko dengan tipe histopatologik pada karsinoma nasofaring. Fakultas kedokteran universitas diponegoro. 2011.

Arania R, L SMP, Jayanti I. Hubungan faktor usia, jenis kelamin dan gejala klinis dengan kejadian karsinoma nasofaring di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung tahun 2013- 2014. Fakultas kedokteran universitas Malahayati.

Fibrian KC. Hubungan antara klasifikasi histopatologis dengan respon kemoradiasi berdasarkan gambaran CT scan pada penderita karsinoma nasofaring. Fakultas kedokteran universitas diponegoro. 2010.

Xie SH, Yu IT, Tse LA, Au JSK, Lau JSM. Occupational risk factors for nasopharyngeal carcinoma in Hong Kong Chinese: a case referent study. Int Arch Occup Environ Health.


Full Text: PDF

DOI: 10.24815/jks.v22i4.23503

Refbacks

  • There are currently no refbacks.