Satu laporan kasus sifilis laten lanjut dalam kehamilan

yosep - prabowo, Qaira Anum

Abstract


Sifilis laten lanjut tidak menunjukkan gejala dan hanya menunjukkan hasil pemeriksaan serologis yang reaktif. Sifilis pada kehamilan dapat menyebabkan abortus berulang, morbiditas dan mortalitas neonatus. Satu kasus, pasien perempuan yang telah menikah usia 34 tahun dengan kehamilan ke 3 usia kehamilan 22-23 minggu, tidak ada mengeluhkan bercak kemerahan pada telapak tangan, kaki maupun bagian tubuh lainnya. Riwayat didiagnosis dan mendapatkan terapi sifilis juga tidak ada. Status dermatologikus dan venereologikus dalam batas normal. Hasil pemeriksaan laboratorium VDRL/RPR reaktif 1:2. TPHA reaktif 1:160. Perempuan hamil dengan tes serologik sifilis positif tanpa ada riwayat pengobatan sebelumnya harus dianggap terinfeksi sifilis laten lanjut dan harus mendapatkan terapi. Benzatin penisilin merupakan terapi utama dalam pengobatan sifilis pada wanita hamil. Reaksi alergi dan reaksi Jarisch-Herxheimer tidak menghalangi pemberian obat tersebut. Evaluasi kembali secara klinis serta serologis pada 1, 3, 6, 9 dan 12 bulan setelah pengobatan sangat diperlukan untuk menentukan keberhasilan pengobatan. Jika titer nontreponemal meningkat atau tidak menurun empat kali dalam 6-12 bulan setelah pengobatan, maka pengobatan dianggap gagal.

Keywords


sifilis laten lanjut, VDRL, TPHA

References


Katz KA. Syphilis. In: Goldsmith LA., Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffel DJ, Wolff K, eds. Fitzpatrick’s Dermatology In General Medicine. 8th ed. New York: McGraw-Hill Medical; 2012. p. 2471-92.

Williams JW. Sexually transmitted infection. In Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Dashe JS, Hoffman BL, Casey BM, et al. Williams obstetrics. 25th ed. New York: McGraw-Hill Medical; 2018. p. 1967-73

CDC. Recommendation and reports: Sexually transmitted disease treatment guidelines. MMWR. 2021;70(4):39-59.

Newman L, Kamn M, Hawkes S, Gomez G, Say L, Seuc A, et al. Global estimates of syphilis in pregnancy and associated adverse outcomes: analysis of multinational antenatal surveillance data. Plos Med. 2016; 10(2): 110.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2017 tentang Eliminasi Human Immunodeficiency Virus, Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak. 2017.

Hawkes, S. J., Gomez, G.B., & Broutet, N. Early antenatal care: does it make a difference to outcomes of pregnancy associated with syphilis? A systematic review and meta-analysis. PLOS ONE. 2013;8(2): e56713.

Sparling PF, Morton NS, Daniel MM, Bernardine PH. Clinical manifestations of syphilis. In: Holmes KK, Sparling PF, Stamn WE, Piot P, Wasserhait JN, dkk, eds. Sexually transmitted disease. 4th Ed. New York: McGrow-Hill; 2008 .p. 661-84.

Kementrian Kesehatan RI. Pedoman tata laksana sifilis untuk pengendalian sifilis di layanan kesehatan dasar Indonesia. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta: Kemenkes RI; 2013 .p. 21-3

Wahab AA, Ali UK, Mohammad M, Madiana E, Rahman MM. Syphilis pregnancy. Pak J Med Sci 2015; 31(1): 217-9.

Jin J. Screening for syphilis in pregnant women. J Am Med Ass. 2018; 320(9): 1-2

Nayak S, Acharjya B. VDRL test and its interpretation. Indian J Dermatol Venereol. 2012;57(1):3.

Pasquini L, Malosso ER, Cordioso A, Trotta M, Tomasso M. Latent syphilis infection in pregnancy: an ultrasound diagnosed case of penicillin treatment failure. Case Rep Obstet Gynecol. 2018; 8: 1-3.

Kingston M, French P, Higgins S, McQuillan O, Sukthankar A, Stott C, et al. UK National guidelines on the management of syphilis 2015. Int J STD AIDS.2015;27(6):4216.


Full Text: PDF

DOI: 10.24815/jks.v23i1.27722

Refbacks

  • There are currently no refbacks.