Perawatan recalcitrant oral aphthous pada pasien lansia
Abstract
Pendahuluan: Recurrent oral aphthous dapat terjadi pada setiap individu tanpa mengenal usia. Umumnya lesi yang muncul dan dapat sembuh sendiri tanpa adanya pengobatan. Akan tetapi pada beberapa pasien lesi aftosa dapat berlangsung lama dan menimbulkan keluhan yang disebabkan karena rasa sakit. Tujuan: Artikel ini bertujuan untuk memamparkan perawatan kasus recalcitrant oral aphthous pada pasien lansia. Laporan Kasus: Pasien Wanita usia 56 tahun dengan keluhan sariawan dirongga mulut sejak 1 bulan terakhir, rasa sakit yang ditimbulkan dengan skala 7 menurut visual analogue scale (VAS). Sariawan sudah pernah diobati terapi tidak menunjukan perubahan dan lesi tidak sembuh. Pemeriksaan ekstra oral, kelenjar getah bening tidak teraba dan dalam batas normal. Pemeriksaan intraoral terlihat lesi ulser yang besar, tepi lesi sedikit meninggi dan lesi ditutupi dengan lapisan fibrinopurulent berwarna kuning pada mukosa labial atas yang disertai dengan pembengkakan bibir atas dan pada saat dipalpasi bibir atas dalam keadaan lunak. Kondisi rongga mulut sangat buruk, banyak ditemukan sisa akar gigi pada rahang atas dan bawah. Kunjungan pertama, lesi di diagnosis sebagai recalcitrant oral aphthous dan diberikan terapi kortikosteroid secara topikal, kunjungan kedua lesi menunjukkan progress yang bagus, ukuran dari ulser berkurang, lapisan purulent sudah menghilang, gejala berkurang, dan pada kunjungan ke 3 lesi sudah sembuh dengan meninggalkan bekas pada mukosa labial. Pembahasan: lesi oral aphthous dapat terjadi ulang kambuh dapat terjadi pada pasien lanjut usia. Pada laporan kasus ini, lesi telah terjadi selama lebih dari 2 minggu dengan riwayat sariawan berulang pada pasien hamper setiap bulan dan terjadi pada rongga mulut dengan durasi sariawan selama 1 minggu. Lesi di rawat dengan menggunakna steroid topikal dan hal tersebut menunjukkan perubahan yang signifikan. Kesimpulan:Lesi oral aphtous dapat terjadi pada pasien lansia dan kondisi tersebut dapat memiliki korelasi dengan keadaan sistemik dari pasien, sehingga perawatan lesi tersebut menjadi tantangan tersendiri terutama pada kasus recalcitrant. Penggunaan kortikosteroid topikal dapat mengurangi keparahan dari lesi, mengurangi ukuran dari lesi.
Keywords
References
Prajapat J, Prajapat R, Khanagar SB, et al. Combination of Levamisole with Prednisone in Treating Recurrent Major Aphthous Ulcer in a Young Boy : A Case Report. Published online 2021:250-256.
Natalie Rose Edgar DSRAM. Recurrent Aphthous Stomatitis: A Review. J clincal aesthethic dermatology. 2017;10(3).
Jurge S, Kuffer R, Scully C, Porter SR. Number VI Recurrent aphthous stomatitis. 2006;44(Vi):1-21. doi:10.1111/j.1601-0825.2005.01143.x
Jainkittivong A, Aneksuk V, Langlais RP. Oral mucosal conditions in elderly dental patients. Oral Dis. 2002;8(4):218-223. doi:10.1034/j.1601-0825.2002.01789.x
Manuscript A, Stomatitis RA. NIH Public Access. 2015;58(2):281-297. doi:10.1016/j.cden.2013.12.002.Recurrent
Ślebioda Z, Szponar E, Kowalska A. Recurrent aphthous stomatitis : genetic aspects of etiology. Published online 2013:96-102. doi:10.5114/pdia.2013.34158
OSSA YF. Role of hematinic and zinc deficiencies in recurrent aphthous stomatitis: A Review. J Syiah Kuala Dent Soc. 2021;5(2):85-88. doi:10.24815/jds.v5i2.20022
Kim J, Song M, Jeong H, Cho S, Sung Y. Case Report A Case of Refractory Oral Aphthous Ulcer Successfully Treated with Adalimumab. 2017;24(3):157-160.
Belenguer-guallar I, Jiménez-soriano Y, Claramunt-lozano A. Treatment of recurrent aphthous stomatitis . A literature review. 2014;6(2):168-174. doi:10.4317/jced.51401
Robinson ND, Guitart J. Recalcitrant , Recurrent Aphthous Stomatitis Treated With Etanercept. Published online 2003.
Manuscript A, Stomatitis A. NIH Public Access. 2014;42(4):290-294. doi:10.1111/jop.12015.Validation
Baccaglini L, Lalla R V, Carrozzo M, Iii RSR. NIH Public Access. 2012;17(8):755-770. doi:10.1111/j.1601-0825.2011.01840.x.Urban
Quijano D, Rodríguez M. Topical Corticosteroids in Recurrent Aphthous Stomatitis. Systematic Review. Acta Otorrinolaringol (English Ed. 2008;59(6):298-307. doi:10.1016/s2173-5735(08)70242-4
DOI: 10.24815/jks.v22i4.27746
Refbacks
- There are currently no refbacks.