Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Infeksi Kusta
Abstract
Abstrak. Program pemberantasan kusta di dunia telah berjalan Jebih dari 20 tahun terakhir, namun kasus insiden kusta baru tidak menurun. Dengan kata lain penularan penyakit kusta masih terus terjadi di rnana- mana. Sampai dengan saat ini manusia masih diyakini sebagai sumber penularan Mycobacterium leprae yang utama, terutama pada penderita kasus tipe lepromatosa yang sangat infeksius. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya penularan penyakit kusta seperti lamanya kontak, keeratan hubungan, status imunitas, status gizi, sosial ekonomi, genetik, hygiene dan sanitasi lingkungan, serta mempunyai beberapa cara penularan. Cara penularan yang utama adalah melalui kontak dengan penderita kusta (kontak antar kulit, kontak intim, kontak berulang-ulang). Mycobacterium leprae dari penderita kusta terutama penderiita kusta tipe MB masuk ke dalam tubuh seseorang melalui saluran pemafasan. (JKS2010;2:99-104)
Kata Kunci: Mycobacterium leprae, kusta, inhalasi, kontak
Abstract. The program to eradicate leprosy in the world has been taken for the last 20 years, but the incidence of new leprosy cases do not. decline yet. In other words, the transmission of leprosy is still occurring everywhere. Up today, humans are still believed to be a major source infection of Leprae Mycobacterium, particularly on the patients with lepromatous type of cases that are· extremely infectious. There-are many factors that influence the occurrence of leprosy transmission, such as the length of contact, closeness of relationship, immune status, nutritional status, socio-economic, genetic, hygiene and sanitation environment. There are several modes of leprosy transmission. The main mode of transmission is through contact with people that have leprosy (contact between the skin, intimate contacts, contacts repeatedly). Leprae Mycobacterium from leprosy patients especially patients with MB leprosy type would infect someone through the respiratory tract. (JKS 2010;2:99-104)
Keywords: Leprae Mycobacterium, leprosy, inhalation, contact
Keywords
References
D~ftar Pustaka
World Health Organization. WHO Expert Committee on Leprosy. ih ed. WHO Technical Report Series. 1998: 874.
Hemani CH. Masalah Kusta dan Pemberantasannya di Indonesia. Buku Abstrak. Disampaikan pada Kongres Nasional
Perhimpunan Dokter Spesialis Ku/it dan
Kelamin {PERDOSKJ)di Jakarta. 2005.
Day, R. Situasi Penyakit Kusta. Sub
Direktorat Kusta. Ditjen PPM dan PPL.
:1-7.
Day, R. Program Pemberantasan Penyakit Kusta di Indonesia Hasil yang Dicapai dan Masalah. Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) VI Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia dan Lokakarya Dermatopatologi Kusta. Makasar. 2001.
Departemen Kesehatan RI. Data Subdit Kusta.
Direktorat Jenderal PPM dan PPLP. Jakarta.
Harboe, M. Overview of Host-Parasite
Relation. In: Hastings,RC. Leprosy. Churcbil
Livingstone. Edinburg. 1994: 87-112.
Hardyanto. Infeksi Subklinis Mycobacterium
leprae dan Hubungannya dengan Faktor- Faktor Risiko di Indonesia: kajian Seroepidemiologik dan Imunogenetik. Disertasi. Universitas Gajah Mada Yogyakarta. 1996.
Agusni, I. Perubahan Pola Imunopatologik sebagai Indikator Untuk Penanganan Kusta Subklinik: Suatu Studi Observasional Longitudinal untuk Mendapatkan Dasar Kebijakan dalam Penanganan Kusta Stadium Subklinik, Disertasi. Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya. 1997.
Agusni, I. Penyakit Kusta Penyakit Tua dengan Segudang Misteri. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalarn Bidang Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin pada Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. 2003.
IO. Scollard DM; Adam LB; Gillis TP; Krahenbuhl JL; Truman RW and Williams DL. The Continuing Challenges of Leprosy. Cin. Microbiol. Rev. 2006.19: 338-381.
Harboe, M. Overview of Host-Parasite Relation. In: Hastings,RC. Leprosy. Churchil Livingstone. Edinburg. 1994:87-112.
World Health Organization. Guide to
Eliminate Leprosy as a Public Health
Problem. WHO. Geneva. 2000.
Agusni, I. Perkembangan Terbaru
Imunopatagogenesis Penyakit Kusta. MDVI.
25 (4): 32-388
Kandouw, JM. Hubungan Tipe HLA dengan Kerentanan Tubuh pada Penyakit Lepra: Suatu Pendekatan Imunogenetik pada Populasi Etnik Bugis-Makasar, Disertasi. Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya. 1999.
Goerge, K; John KR; Muliyil JP, and Josep A.
The role of intrahousehold contact in the
transmission. Lepr. Rev. 1990.6 ! : 60-63
Muttaqin, I. Faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya kusta subkJinik pada narakontak serumah dan tidak serumah penderita kusta: Studi epidemiologik pada desa endemik dan hiperdemik kusta di Kecamatan Talango Kabupaten Sumenenep. Teseis. Program Pascasarja Unair. 2005.
Noordeen, SK. The Epidemiology of Leprosy.
In: Hastings,RC. Leprosy. Churchil
Livingstone. Edinburg. 1994:29-43
Iswahyudi; Adriaty, D; Wahyuni, R; Widayati, E; Mudatsir; Agusni, Izumi, S. The profile of subclinical leprosy among household contacts
a sero-epidemiological study in correlation with the family relationship. Buku Abstrak. Disampaikan pada Kongres Nasional Perhimpunan Dokter Spesialis Ku/it dan Ke/amin (PERDOSKI) di Jakarta.2005.
Dhannedra. Detection of subclinical in leprosy. Lepr. India. 1999.54; 192-207.
Departemen Kesehatan RI. Pelaksanaan
Program Leprosy Elimination Campaign di Indonesia. Direktorat Jenderal PPM dan PPLP. Jakarta. I999.
Departemen Kesehatan RI. Buh, Pedoman
Pemberantasan Penyakit Kusta. Direktorat
Jenderal PPM dan PL. Jakarta. 2002.
Amiruddin, MD dan Noordin,
Mycobacterium leprae. Berka/a IP. Ku/it clan
Kelamin, 1995.7 (1): 53-58.
Refbacks
- There are currently no refbacks.