PENGELOLAAN LAHAN GAMBUT UNTUK PERKEBUNAN KARET YANG DITUMPANGSARIKAN DENGAN TANAMAN NENAS
Abstract
Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana pengelolaan lahan gambut untuk perkebunan karet yang ditumpangsarikan dengan tanaman nenas. Metode penelitian ini menggunakan data sekunder berupa literatur dari berbagai sumber seperti buku dan jurnal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan gambut memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan potensial untuk budidaya pertanian. Akan tetapi, lahan gambut harus dimanfaatkan dengan memperhatikan keseimbangan lingkungan, seperti memperuntukkan kawasan budidaya, non budidaya, dan kawasan preservasi. Kendala dalam pengelolaan di lahan gambut antara lain pH tanah yang sangat asam, adanya lapisan pirit dan pasir, rendahnya daya tumpu, penurunan permukaan gambut, kematangan dan ketebalan yang berbeda-beda, tingkat kesuburan yang rendah, kondisi lahan gambut yang jenuh air bahkan tergenang ketika musim hujan dan kering saat kemarau, serta ancaman kebakaran yang sangat tinggi. Penanaman karet di lahan gambut dapat memberikan manfaat bagi petani, pertama sebagai investasi untuk hari tua, kedua karena risiko kegagalan yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan mengusahakan tanaman semusim, apalagi yang dikelola di lahan gambut. Pemaksimalan potensi lahan gambut untuk perkebunan harus ditumpangsarikan dengan tanaman lain, karena pengelolaan lahan gambut dengan tanaman tahunan, akan memberikan nilai ekonomis yang lebih apabila ditumpangsarikan dengan tanaman pangan dan hortikultura musiman. Tumpangsari karet dengan tanaman nenas merupakan sistem tumpangsari yang banyak diterapkan petani. Keuntungan dari sistem tumpangsari antara lain pemanfaatan lahan kosong disela-sela tanaman pokok, peningkatan produksi total persatuan luas karena lebih efektif dalam penggunaan cahaya, air serta unsur hara, di samping dapat mengurangi risiko kegagalan panen, dan menekan pertumbuhan gulma.
Full Text:
PDFReferences
Agus, F. dan I.G. M. Subiksa. (2008). Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek Lingkungan. Bogor: Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Centre (ICRAF).
Agus, F., Wahyunto, H. S., Subiksa, I. G. M., Prihasto, S., Ai Dariah, M., Neneng, I., & Nurida, M. H. (2014). Pengelolaan Berkelanjutan Lahan Gambut Tergredasi: Trade-off Keuntungan Ekonomi dan Aspek Lingkungan. In Prosiding Seminar Nasional. Pengelolaan Berkelanjutan Lahan Gambut Terdegradasi Untuk Mitigasi Emisi GRK dan Peningkatan Nilai Ekonomi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementrian Pertanian, Jakarta.
Alihamsyah, T., Ananto, E. E., Supriadi, H., Ismail, I. G., & Sianturi, D. E. (2000). Dwi Windu Penelitian Lahan Rawa: Mendukung Pertanian Masa Depan. Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP. Badan Litbang Pertanian. Bogor.
Astuti, Murdwi, Hafiza, Elis Yuningsih, Agus Rosyid Wasingun, Irfan Maulana Nasution, dan Destiana Mustikawati. (2014). Pedoman Budidaya Karet (Hevea Brasiliensis) yang Baik. Jakarta: Direktorat Jenderal Perkebunan.
Balingtang. (2014). Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan Untuk Tumpangsari Karet dan Nenas. http://balingtan.litbang.pertanian.go.id /ind/index.php/berita/210-pengelolaan-lahan-gambut-berkelanjutan-untuk-tumpangsari-karet-dan-nenas#. Diakses pada 15 April 2018.
Ditjenbun. (2009). Teknis Budidaya Tanaman Karet. Jakarta: Direktorat Jenderal Perkebunan.
Firmansyah, M. A., Nugroho, W. A., & Mokhtar, M. S. (2012). Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan: Studi Kasus Pengembangan Karet dan Tanaman Sela di Desa Jabiren Kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Hadianti, S., & Indriyani, N. L. P. (2008). Petunjuk teknis budidaya nenas. Solok (ID): Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika.
Hardjowigeno, S. (1986). Sumber daya fisik wilayah dan tata guna lahan: Histosol. Fakultas Pertanian IPB. Hal 86-94.
Irawan dan Eni M. (2014). Panduan Pengelolaan Berkelanjutan Lahan Gambut Terdegradasi. Bogor: Balai Besar Penelitian Dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.
Janudianto, P. A., Napitupulu, H., & Rahayu, S. (2013). Panduan budidaya karet untuk petani skala kecil. Rubber cultivation guide for small-scale farmers. Lembar Informasi AgFor, 5.
Kalimantan Forests and Climate Partnership. (2012). Multiple Cropping (MC) Karet dan Nenas. http://teguh-setioutomo.blogspot.co.id/2012/11/multiple-cropping-mc-karet-dan-nenas_4.html. Diakses pada 15 April 2018.
Tim Sintesis Kebijakan. (2008). Pemanfaatan dan konservasi ekosistem lahan rawa gambut di Kalimantan. Pengembangan Inovasi Pertanian, 1(2), 149-156.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2015). Pedoman Pemulihan Ekosistem Gambut. http://pkl.menlhk.go.id. Diakses pada 15 April 2018.
Litbang Pertanian. (2007). Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet Edisi Kedua. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Masganti. (2013). Teknologi inovatif pengelolaan lahan suboptimal gambut dan sulfat masam untuk peningkatan produksi tanaman pangan. Pengembangan Inovasi Pertanian 6(4):187-197.
MCA-I. (2016). Pengelolaan Lahan Gambut untuk Agroforestry Dan Palidukultur. Jakarta: Konsorsium PETUAH (PerguruanTinggi untuk Indonesia Hijau)–MCA Indonesia.
Min, S., Huang, J., Bai, J., & Waibel, H. (2017). Adoption of intercropping among smallholder rubber farmers in Xishuangbanna, China. International Journal of Agricultural Sustainability, 15(3), 223-237.
Najiyati, S., Lili Muslihat, dan I Nyoman N. Suryadiputra. (2005). Panduan pengelolaan lahan gambut untuk pertanian berkelanjutan. Proyek Climate Change, Forests and Peatlands in Indonesia. Wetlands International – Indonesia Programme dan Wildlife Habitat Canada. Bogor. Indonesia.
Noor, M. (2010). Lahan Gambut, Pengembangan, Konservasi dan Perubahan Iklim. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Nugroho K. (2015). Penurunan Permukaan Lahan Gambut (Presentasi Power Point). IPN Toolbox Tema C Sun Tema C6. www.Cifor.org/ipn.toolbox. diakses tanggal 15 April 2018.
Pemerintah Republik Indonesia. (2009). Peraturan Menteri Pertanian nomor 14/Permentan/PL.110/2/2009 tentang Pedoman Pemanfaatan lahan Gambut untuk Budidaya Kelapa Sawit. Jakarta.
Pusdatin, (2016). Outlook Karet Komoditas Pertanian Subsektor Perkebunan. Jakarta: Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian - Kementerian Pertanian.
Subarja, D. dan E. Suryani, 2012. Klasifikasi dan distribusi tanah gambut di Indonesia serta pemanfaatannya untuk pertanian. Hlm. 87-94. Dalam Edi Husen et al. (Ed). Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan. BB SDLP. Bogor.
Syakir, M. (2010). Budidaya dan Pasca Panen Karet. Bogor: Pusat Penelitian Dan Pengembangan Perkebunan.
Syukur dan Widyaiswara M. (2015). Penyadapan Tanaman Karet. Jambi: Balai Pelatihan Pertanian.
Wahyunto, S. Ritung, K. Nugroho, Y. Sulaiman, Hikmatullah, C. Tafakresnanto, Suparto, dan Sukarman. (2013). Peta Arahan lahan Gambut Terdegradasi di Pulau Sumatera Skala 1:250.000. Bogor: Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian.
Wijaya, A. (1996). Pengelolaan tanah dan air. Makalah Intern Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.
Article Metrics
Abstract view : 0 timesPDF - 0 times
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2020 Yusriadi Yusriadi, A.M Ikramullah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
ISSN 2541-6936 (Print)| ISSN 2808-2834 (Online)
Organized by Universitas Syiah Kuala
Jurnal Pendidikan Geosfer Published by Jurusan Pendidikan Geografi FKIP Universitas Syiah Kuala
Website : http://jurnal.unsyiah.ac.id/jpg
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
